Sebanyak 1.180 pekerja di Indonesia mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepanjang Oktober 2025, menandai berlanjutnya tekanan di sektor industri padat karya. Data Satudata Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebaran PHK terbesar pada bulan tersebut berada di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Angka PHK ini menambah panjang krisis ketenagakerjaan sejak 2022, di mana Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) mencatat 126.160 anggotanya terkena PHK hingga Oktober 2025. Sebanyak 79 persen dari total korban PHK anggota KSPN tersebut berasal dari sektor tekstil, garmen, dan sepatu.
Presiden KSPN Ristadi menjelaskan PHK massal ini dipicu oleh turunnya pesanan industri global, yang diperparah oleh berhentinya order dan penurunan kualitas produksi. Perusahaan-perusahaan ini kalah bersaing karena mesin yang tidak diperbarui dan akhirnya gulung tikar, kata Ristadi, seraya menambahkan laporannya baru masuk belakangan.
Meskipun pusat krisis PHK historis anggota KSPN berada di Jawa Tengah (38 persen) dan Jawa Barat, data PHK Kemnaker Oktober 2025 menunjukkan perubahan lokasi terdampak. Sulawesi Selatan kini memimpin dengan 600 korban PHK, menjadi indikasi bahwa tekanan ekonomi global kini menyebar ke luar pulau Jawa.
Badan Pusat Statistik (BPS) menilai tingginya gelombang PHK turut menyumbang angka pengangguran per Agustus 2025, terutama dari sektor padat karya. Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud menyebut sektor industri pengolahan, pertambangan, dan perdagangan menjadi penyumbang terbesar pekerja yang kehilangan pekerjaan.
Data 1.180 korban PHK Oktober 2025 ini menjadi alarm serius bagi pemerintah dan industri untuk mempercepat diversifikasi sektor ekonomi. Tanpa strategi mitigasi yang jelas, ketergantungan pada sektor tekstil rentan dan mesin tua akan terus membuat Indonesia menghadapi gelombang PHK massal di masa mendatang.






